Monday, June 14, 2010

salahnya penulis..

"Kamu yakin bisa hidup dari menulis?" tanya seorang kolega baru padaku, beberapa hari yang lalu, di perjumpaan perdana kami..

"Nggak sayang? kuliah tinggi-tinggi di UGM ujung-ujungnya cuma jadi penulis?" lanjutnya, "terus, kalau misal jadi lanjut kuliah ke luar negeri apa nggak lebih sayang lagi tuh? kenapa nggak berkarir di perusahaan bonafit aja sih?? lagipula, kalau jadi penulis bisa gitu beli rumah atau mobil? hidup kan nggak cuma hari ini? hari depan kudu disiapin juga kan?" cecarnya lagi...

sabar..sabar...*dalam hati udah rada esmosi jiwa juga nih...*

apa salahnya jadi penulis?
toh penulis nggak nyuri, jadi penulis juga nggak korupsi.., apalagi ampe berulah yang nggak-nggak *ops.., kecuali imajinasi yang kadang terlalu liar dan tak terbendung..tapi kan nggak ampe bikin geger orang se-Indonesia raya* ^_^

terus-terus..
emangnya kalau kerja di perusahaan bonafit kepuasan batin jadi terpenuhi gitu??

hmmm...
jadi penulis (mungkin) memang nggak menjanjikan di negeri ini, belum menjanjikan mungkin..
tapi bukan berarti akan terus nggak menjanjikan kan?
perkara beli mobil atau beli rumah...
waduh..emangnya semua-muanya harus diukur dengan materi ya?
memangnya hidup jadi lebih berarti kalau udah bermobil dan berumah mewah ya?

Padahal eh padahal, kalau saja nih kolega mau mengikuti perkembangan dan rajin membaca, dia pasti akan terkejut-kejut mendapati bahwa  profesi menulis belakangan justru (oleh beberapa orang) dianggap sebagai pekerjaan yang seksi..
ahahay...
entah profesinya yang seksi atau penulisnya yang seksi..aku nggak tahu pasti...
mungkin profesi dan pelakunya sama-sama seksi..hihi *oh tidak..sepertinya aku mulai meracau, tapi serius..statement ini benar adanya..sebuah majalah pernah mengulas tentang ini* ^_^

baiklah, kembali ke cerita tentang si kolega baru dan pertanyaan-pertanyaannya..
"Menulis itu bukan tentang mencari uang.., menulis itu tentang berbagi.. juga tentang mewujudkan passion. Bekerja dengan passion itu jauh lebih nikmat, bahkan jauh lebih nikmat ketimbang bekerja di perusahaan bonafit. Perkara mobil dan rumah.., wah kalau aku sih mending uangnya buat belibuku atau jalan-jalan.., masih banyak hal di luar sana yang menanti untuk kujelajahi. Lagi pula, memangnya pekerjaanmu di perusahaan itu memuaskan batinmu?" jawabku kala itu

Dia, si kolega sedikit tak terima dengan jawaban itu..
peduli amat...,
toh kenyataannya menulis itu bukan sesuatu yang memalukan..
menulis itu menyenangkan...
malah, kata seorang teman..menjadi penulis itu beresiko untuk terkenal, hehe...
pun, geliat dunia penulisan dan perbukuan mulai bergerak ke arah yang lebih baik belakangan ini
lagi pula.., tanpa penulis mana ada buku-buku yang mengantarkan dia menyelesaikan kuliahnya di institut negeri ternama itu??*haloo....kalau pun dia nggak pernah baca buku selama kukliah, dosen-dosen dia pasti baca buku toh sebelum mengajar??dan buku tak akan pernah ada tanpa penulis bukan??* ^_^

dan..
hei..., tak semua orang bisa menulis buku..
memangnya dia bisa?
kalau kerja kantoran sih.., semua orang bisa kali ya..
tapi menulis buku..
sepertinya cuma beberapa gelintir orang saja yang bisa, mampu, dan mau melakukannya...

Tapi percuma juga menjelaskan semua fakta itu ke si kolega baru..

karena sepertinya (ini mungkin lho ya) dia bukan penikmat buku..,
bagaimana mungkin menjelaskan nikmatnya menulis ke orang yang bahkan tak berminat membaca?
sama halnya memaksa orang yang sedang sakit gigi untuk makan *lho, kok nggak nyambung??*^_^
lebih baik aku memaklumi saja..
mendebatnya hanya akan membuang energi percuma..
toh..,
profesi itu pilihan..
seperti kata sebuah iklan..,
apa pun profesinya yang penting terus berkarya *nah lho..semakin ngaco saja*
sudahlah..,
mungkin sebaiknya kusudahi saja tulisan ini daripada semakin tak tentu arah...

-dee-
*Mencoba melihat dan memaknai perjumpaan dan diskusi dengan si kolega baru dari sudut yang berbeda.., mungkin ini cara Tuhan menyentilku agar tak berhenti berkarya dan segera merampungkan project bukuku yang lambat bergerak..., jadi teringat kata seorang teman.."Seseorang itu disebut penulis kalau dia menulis.., kalau tak menulis.., mana bisa disebut penulis..," argh...., baiklah..aku akan segera menuntaskannya..., JANJI!!^_^*






Friday, April 23, 2010

tentang memilih dan pilihan..

Seorang teman lama, di negara seberang bertanya..
"Pernah nggak kamu merasa pekerjaanmu sekarang bukan kamu..it's not belong to you..ketika kamu bekerja yang ada cuma lelah..and you feel so empty..pernah??"

Uhmm...

ceritanya, si teman ini lagi ngerasa pekerjaan yang dia jalani 'salah'..
dia ngerasa hidupnya habis untuk pekerjaan ini..
hasilnya..penyakit2 ngga jelas mulai sering menghampiri..penyakit2 yang konon menurut penuturannya selalu datang setiap pagi, menjelang berangkat bekerja..
penyakit2 yang konon masuk dalam label psikosomasis (benera ngga ya ejaannya??hehehe)

celakanya, si teman juga merasa tak bisa lepas dari bosnya..
maksudnya..dimanapun dan kapanpun si bosnya selalu saja menghubunginya untuk menambah dan menambah pekerjaannya..
alhasil, si teman mengaku..hidup semakin menyebalkan..

Uhmmm...

kalau dipikir2 bekerja itu buat apa sih??
apa iya bekerja selalu berarti stres, hidup yang menyebalkan, dan kelelahan tiada akhir??
bukankah bekerja itu harusnya menyenangkan??
melakukan sesuatu yang kita sukai dan menyukai yang kita lakukan??

okay..idealnya memang seperti itu..
sayangnya..
dunia nyata kadang tidak memmbiarkan kita mewujudkan hal2 yang ideal..
tp bukankah kita manusia punya pilihan?? dan berhak memilih??
melanjutkan pekerjaan itu atau memilih yang baru..sesederhana itu kan??

si teman pun berkata "tidak sesederhana itu..keluar dari sini artinya perlu waktu 3 bln lg buat berburu pekerjaan yg baru.."

Ah, apa iya??
bukannya hidup itu sejatinya tentang memilih??
kita selalu bisa memilih apa yang ingin kita jalani..dan apa yang tidak..
dan pastinya..
setiap pilihan ada konsekuensi yang harus ditanggung..apa pun itu..

Masalahnya..,
Kita berani menjalani apa yang jadi pilihan kita tidak?
kalau cuma sekadar memilih sih nggak akan pernha menyelesaikan masalah..
butuh langkah nyata untuk mewujudkan pilihan itu..
untuk sesuatu yang lebih baik..
(maksudnya..ketimbang bertahan dan terus-menerus mengeluh..bukan begitu??)

ah, jadi teringat pesan Rene Suhardono semalam..
bekerja itu bukannya tentang LOVE WHAT TO DO..
tapi tentang TO DO WHAT YOU LOVE...
dan hidup akan jadi lebih indah...
-dee-
*Berucap syukur pada Yang Maha Hebat..yang memberiku keberanian untuk memilih dan mengambil langkah untuk "mengeksekusi" pilihan itu.. passion, mission, values.. kini saatnya mensinergikan ketiganya..untuk hidup yang lebih baik dan kebermanfaatan bagi banyak orang.. karena hidup tak melulu tentang materi ^_^ *

Monday, April 19, 2010

meragu

"Aku ragu.., aku takut keputusanku salah...tapi semua pertanda seolah menuju padanya...aku harus gimana? kasih tau aku.. kalau semua ini berakhir, aku ga tau harus berucap apa ke mereka... tapi aku udah nggak sanggup...," suara seorang teman baik di ujung sana, tepat di dini hari..memaksaku kembali terjaga..

Konon katanya, dari beberapa majalah yang pernah kubaca
detik-detik menjelang pernikahan konon bikin spaneng setengah mati..
bikin hal-hal sepele jd masalah yang luar biasa gede..
yg tadinya dah mau ke titik itu..eh, akhirnya justru bubar grak..
BATAL!!

celakanya,
sekali ini bukan cerita di majalah yang aku temukan..
sekali ini..nyata..
pun, pelakunya ku kena baik..
haduh!

dan sejujurnya..,
mendengar tutur si teman baik di ujung sana, aku jadi sedikit takut..
takut krn aku sadar..apapun jawabanku itu bisa berimbas pada langkah yg dia ambil setelahnya..
Duh!

jadi bertanya-tanya..
selalukah begitu?
sgala persiapan dan kerumitan itu hanya akan membekas emosi di ujung kepala?
yang siap meledak kapanpun..
dan menghancurkan segala rencana gegap gempita itu menjadi keping-keping yang tak berarti??
ntahlah..

aku belum pernah merasai prosesi itu..
pun, berharap tak berakhir seperti itu (tentu saja! hanya orang gila yang berharap sebaliknya, bukan? ^_^)

kembali ke cerita si teman..
kl emang tak yakin..kenapa tak sedari awal?
salahkah pertanda yg ia baca?
atau..
salahkah ia menterjemahkan pertanda?
ato..
adakah ia tak jujur pada dirinya?
ntahlah..

-dee-
*tak tahu harus mengurai seperti apa..terlalu rumit menguntai kisah semalam...mungkin butuh waktu lebih untuk mencerna dan menuangkannya kembali di lain waktu...*